Social Media

December 20, 2017

Tentang Menikah

elderly couple in york

Bicara tentang love story, saya tidak pernah (sepertinya) menulis tentang hal tersebut di blog ini. Pun, saya tidak pernah menulisnya di jurnal. Namun tidak untuk postingan kali ini.

Sekarang saya memasuki seperempat abad, tahap dimana undangan pernikahan sepert jadwal jumatan (mengutip kurniawangunadi, 2016). Saya kira saya masih berada pada fase mahasiswa dimana permasalahan terberat adalah pengumpulan tugas. Realitanya perkara jodoh dan karir lebih rumit dari sekadar pengumpulan essay yang melibatkan hati dan pertimbangan masak-masak. Pun, jika ditanya apakah saya siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, saya tak tahu jawabannya. Karena toh pada intinya, pernikahan itu proses seumur hidup.

Sayangnya menjalani proses tersebut tidak ada buku panduannya. Jika ada hambatan A, maka solusinya B, atau sebaliknya, rasanya setiap pasangan akan mengatasi suatu masalah secara berbeda-beda, bergantung pada komunikasi dan kesepakatan diantara keduanya. Sejauh ini, saya melihat proses pernikahan ya pada kedua orang tua saya. Dari semenjak saya kecil sampai umur 25 ini, saya melihat proses yang berkelanjutan, berubah, menjadi dewasa bersama. Masalah yang datang dan pergi bisa dihadapi dengan tenang.

Saya menjadi meraba-raba apakah nantinya saya bisa menjadi seperti ibu saya,

yang sabar menghadapi anak-anaknya yang keras kepala

yang pintar mengatur keuangan rumah tangga ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik

yang bisa berbakti dengan baik kepada suaminya

yang mampu mengalahkan egonya sendiri

poin yang terakhir ini rasanya menjadi musuh terbesar saya. Ego saya yang besar, masih ingin ini itu, bahkan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang yang bisa menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Padahal sejatinya, menikah itu mengesampingkan ego, berkompromi untuk mencapai tujuan bersama.

Truthfully, I envy for those who have such a big heart to push away their ego, to be humble, to have an open heart.  Whilst me being intractable

Ah, rasanya saya ingin melompati waktu menuju masa depan, melihat dinamika kehidupan pernikahan di masa depan sehingga saya bisa mempersiapkan lahir dan batin. But, sadly life doesn't work that way, does it ?


December 12, 2017

Stop Rushing Through Life



A friend posted a quote on her instagram saying that slowing down is a part of the process that we have to enjoy, being grateful for every step that life takes us.

This struck me right on my head. After two months leaving Leeds, I'm in a constant battle of my self. I'm hestitating my future and what I want to do next. Since one of my biggest dreams is already checked, a part of me feels grateful but another part feels empty. Even worse, when I'm trying to put all the puzzle, the universe seems not in line with my plan. I begin questioning my passion and all of the efforts I put into to get what I want. People say that you have to follow your passion, but what if you already follow one, the environment cannot accommodate and can't work with you? At times like this, being a realist is the most feasible thing to do. 

For now, I am still trying to work on my dreams and having patience, but if the plan is not working, well I might change it. While I am still attempting to work on it, I spend more time with family and friends, going to new and old places that revive my spirit. Also, listening to their story touched my heart and makes me think how one year had done a drastic change in someone's life. Nevertheless, reconnected with them again keeps me sane from the uncertainty of life.

At the end, perhaps what a friend just said on her instagram is right. While I'm rushing to get ahead in life, taking my life back is more needed to really enjoy the meaningful life. To deeply get to know myself, to really discover what kind of life that I always want.


November 14, 2017

Paris: Too Crowded to Enjoy its Beauty

seeing eiffel tower from trocadero

Bulan September lalu, saya berkesempatan melakukan Eurotrip selama 13 hari. Rute Eurotrip dimulai dari Perancis dan di akhiri di Belanda, dengan rincian Perancis-Italia-Hungaria-Ceko-Belgia-Belanda. Perancis menjadi destinasi pertama dikarenakan harga tiketnya yang murah dari Manchester serta visanya mudah didapat! Yes, indeed. Untuk visa turis saya hanya butuh waktu sekitar 4 hari dari pengajuan sampai paspornya dikirim kembali ke rumah, tapi dengan catatan, saya applynya dari Inggris ya ketika masih jadi student.

Di Perancis, saya hanya mengunjungi Paris saja selama tiga hari. Impresi hari pertama saya terhadap Paris tidak terlalu baik. Sebelum menginjakan kaki di kota ini, saya membayangkan Paris yang seperti digambarkan dalam film Midnight in Paris, dimana Marion Cotillard berjalan berdua dengan Owen Wilson di tepi sungai Seine. Tetapi ketika saya keluar dari bandara Charles de Guille dan melanjutkan perjalanan menuju hotel dengan menggunakan Metro, saya dikagetkan dengan suara peminta-minta yang berteriak cukup kencang. How on earth a street beggar could be in the airport metro ? pikir saya saat itu.

Setelah sampai di central station, saya melanjutkan perjalanan menuju hotel di daerah Porte de Clignancourt dengan menggunakan Metro 4. Sebagai catatan tambahan, saya tidak menyarankan untuk bermalam di hotel di daerah Metro 4 dikarenakan daerahnya tidak begitu aman. Lingkungan tempat hotel saya menginap cukup kumuh dan setiap saya berjalan, orang-orang dengan langsung menatap saya dari atas sampai bawah padahal saat itu masih sore hari. Hal ini diperkuat dengan perkataan dari mahasiswa Indonesia yang sedang menyelesaikan studi di Paris. Ketika sedang berada di Arc de Triomphe, saya bertemu dengan dua orang mahasiswa Indonesia dan mereka menjelaskan bahwa daerah tempat tinggal saya merupakan daerah dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. No wonder!