Social Media

May 11, 2016

Most Asked LPDP Interview Questions

wawancara lpdp
sumber: http://www.italianidublino.com/trovare-lavoro-in-irlanda/
Honestly, I'm not an expert on this thing and not a bright kid who can answer very well either. Somehow, I think I'm lucky because I failed before so that I could have enough preparation for the second attempt. Experience is the best teacher, right? So here I share some tips about the interview based on my experience.

Setelah mencoba mendaftar beasiswa LPDP sebanyak dua kali, sayapun akhirnya diterima sebagai awardee pada bulan September 2015 lalu. Sebelumnya saya pernah mencoba mendaftar pada Desember 2014 namun gagal pada tahap wawancara. Pengalaman tersebut menjadikan saya berefleksi diri apa yang membuat saya gagal. Rencana hidup yang mengawang dan kurang pahamnya akan jurusan yang diambil merupakan penyebab utama saya gagal. Dua hal tersebut menjadikan saya kurang lancar dalam menjawab pertanyaan wawancara dan tidak bisa meyakinkan interviewer untuk meloloskan saya. 

Belajar dari kesalahan tersebut, sayapun benar-benar mempersiapkan diri untuk pendaftaran yang kedua kalinya. Kali ini saya meluangkan banyak waktu untuk fokus membuat essay serta persiapan wawancara, LGD, dan essay on the spot. Porsi paling besar saya habiskan di pembuatan essay. Kenapa harus essay? Karena essay merupakan kunci bagi interviewer melihat kepribadian dan rencana studi kita. Berdasarkan pengalaman kemarin, interviewer mengambil bahan wawancara salah satunya dari essay yang kita buat. Jadi pastikan essay tersebut benar-benar mencerminkan diri kita serta menjelaskan gagasan dan rencana kedepannya. 
Pada saat hari H wawancara sendiri, sebenarnya setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Ada yang ditanya mengenai nasionalisme, masalah-masalah di Indonesia, keluarga, dll. Namun ada pertanyaan inti atau umum yang pasti ditanyakan ke setiap pendaftar. Berikut ini merupakan pertanyaan yang menurut saya sering dan pasti ditanyakan kepada para pendaftar baik LPDP maupun beasiswa lainnya

1. Kenapa memilih jurusan tersebut ? Kenapa memilih universitas tersebut, karena masih banyak universitas lain yang lebih bagus?
Pertanyaan ini merupakan pertanyaan paling umum dan merupakan pembuka dari pertanyaan-pertanyaan yang berkembang selanjutnya. Jadi sebaiknya kita harus benar-benar paham mengenai jurusan yang kita ambil serta gambaran mengenai universitasnya. Pada wawancara kemarin saya ditanya kenapa harus ambil jurusan tersebut di universitas itu. Sayapun menjawab mengenai kelebihan universitasnya dan saya juga jelaskan bahwa saya sudah melakukan perbandingan dengan 3 universitas lain yang memiliki jurusan yang sama. Hasil perbandingan tersebut kemudian saya beberkan kepada interviewer. Intinya, pewawancara ingin mengetahui kesiapan kita untuk kuliah lagi dan seberapa paham kita terhadap jurusan yang akan ambil. So, make sure you have proper answer.

2. Apakah jurusan yang kita ambil masih relevan dengan kondisi di Indonesia ? Apa bisa menyelesaikan masalah-masalah di Indonesia ?
Pertanyaan kedua ini masih berhubungan dengan pertanyaan sebelumnya. Jadi apabila kita paham mengenai bidang yang akan kita ambil tentunya kita dapat menjawab pertanyaan ini. Agar lebih mudah, kalian dapat melakukan riset kecil-kecilan mengenai isu-isu yang sedang berkembang pada bidang yang kalian ambil. Berdasarkan pengalaman kemarin, kebetulan saya dapat interviewer yang tahu tentang bidang yang saya ambil-urban planning. Alhasil porsi wawancara saya dihabiskan dengan diskusi mengenai masalah-masalah perkotaan di Indonesia dan bagaiman solusinya. Bahkan saya ditanya tentang tanggapan saya terhadap kebijakan Ridwan Kamil.

3. Apa rencana setelah lulus ? Apakah akan balik lagi ke Indonesia setelah kuliah ?
Karena salah satu penyebab kegagalan percobaan pertama saya adalah rencana kedepan yang kurang jelas, maka sayapun benar-benar membuat gambaran tentang timeline hidup selanjutnya. Ada baiknya mungkin berkontemplasi terlebih dahulu, apa sih yang benar-benar kita inginkan dan bagaimana mencapainya.

4. Bagaimana dukungan keluarga untuk melanjutkan sekolah lagi ?
Kalau masih muda biasanya ditanya mengenai support dari keluarga. Apakah orang tua mendukung untuk melanjutkan studi. Sedangkan yang sudah berkeluarga, misal sudah punya suami/istri dan anak, interviewer akan menanyakan nasib (I can't find any better word) anggota keluarga tersebut. Akan membawa keluarga ke perantauan atau tidak

5. Gambaran mengenai rencana tesis
Untuk pertanyaan ini, maaf, saya kurang dapat menjelaskan karena bisa dibilang saya hoki karena tidak ditanya sama sekali. Namun beberapa teman ditanya mengenai rencana tesis serta metode yang akan digunakan. Jadi sebaiknya tetap dipersiapkan.

Dari pertanyaan umum tersebut, wawancara akan berkembang dengan pertanyaan yang lebih variatif. Interviewer akan menggali lebih dalam mengenai kesiapan diri kita. Namun jika para pewawancara merasa sudah cukup mendapatkan gambaran mengenai diri kita, maka wawancara akan lebih singkat. Teman sayapun hanya butuh 15menit wawancara sedangkan saya sekitar 40menit. Selain itu sebaiknya kita jujur akan diri kita sendiri, karena dari 3 pewawancara salah satunya adalah psikolog loh!

Anyway, semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan gambaran mengenai tahapan wawancara ya. Good luck for all scholarship hunter!

May 10, 2016

Big Bad Wolf Jakarta (a review from a not-so-happy visitor)

Long weekend kemarin, para pecinta buku dihebohkan dengan Big Bad Wolf. Big Bad Wolf (BBW) sendiri merupakan bazaar buku impor yang biasa diselenggarakan setiap tahunnya di Malaysia. Pada tahun 2016 ini, pihak penyelenggara BBWpun meluaskan pasarnya ke Indonesia. Bisa dibilang bazar ini merupakan surga bagi pecinta buku impor. Bagaimana tidak, karena diskon yang diberikan pun gila-gilaan. Buku ensiklopedi yang biasanya harganya selangit pun, di bazaar ini hanya dibanderol sekitar 100-200ribu saja!

Sayapun akhirnya berkesempatan datang ke BBW sebanyak dua kali. Tapi, dari dua kali kedatangan, hanya sekali saya masuk ke dalam hall bazaar, how sad :( Pada kunjungan yang pertama tanggal 5 mei, saya datang pukul 15.30 dan disambut dengan antrian yang menggila! Iya segila itu, bro! Tidak pernah terbesit sebelumnya dalam pikiran saya kalau pameran buku akan ramai, coz it's a common fact that most Indonesians do not love reading (only a few people do). Nyatanya BBW merupakan anomali.

Saat saya datang, antrian masuk sudah sangat panjang. Bayangkan saja, bazaar diadakan di Hall 10 tapi pengunjung sudah harus antri dari Hall 5!!! Bahkan katanya sebelum saya datang, antrian sudah mencapai luar Hall. Saking ramainya, panitiapun akhirnya membuka sistem buka tutup! Hanya beberapa orang yang dapat masuk kemudian pintu ditutup kembali selama 10 menit. HOW CRAZY IT WAS! Melihat antrian yang sangat panjang, saya dan keluargapun memutuskan tidak jadi masuk. Selain karena akan capek mengantri, saya yakin di dalam hall pun tidak kondusif untuk mencari buku dan harus mengantri lagi untuk membayar. Akhirnya saya putuskan untuk datang lagi keesokan harinya.

big bad wolf jakarta
suasana Big Bad Wolf Jakarta
Setelah membaca panduan mengenai Big Bad Wolf di blog Jakarta Book Club, sayapun kembali datang ke BBW pagi hari. Jam 6.30 sudah sampai di tempat dan masuk tanpa antri sama sekali. Di dalam Hallpun tidak terlalu ramai sehingga dapat dengan nyaman melihat-lihat buku, bookgasm attack! Unfortunately that sudden happy feeling didn't last long, because..

  • Buku yang dijual kebanyakan buku-buku lama. Anda mencari buku keluaran 2014 - 2016? You wish. Hasil lihat timeline BBW di social media, ada yang bilang buku-buku yang dijual merupakan stock berlebih dari penerbit. Hmm pantas saja harganya bisa murah meriah
  • Novel kategori Young Adult tidak terlalu variatif. Karena saya penggemar novel ber-genre Young Adult dan Fiksi, maka list buku yang saya buatpun diisi dengan Sophie Kinsella, Rainbow Rowell, Kevin Kwan, Neil Gaiman. Hasilnya? Nol besar. Selama dua jam ngubek-ngubek tidak satupun buku dari daftar yang muncul.
  • Buku untuk kategori non fiksipun sangat amat terbatas. Ayah saya yang mencari buku tentang politikpun tidak dapat sama sekali.

Mayoritas sekitar 50% buku yang dijual adalah buku anak-anak. Jadi yang benar-benar dimanjakan dalam acara ini adalah ibu-ibu dan anak-anak. Well, strategi yang bagus untuk meluaskan pangsa pasar. Selain itu, BBW yang diadakan Jakarta inipun sepertinya agak berbeda dengan BBW Malaysia dalam hal genre buku. Hasil melihat instagram official BBW Malaysia maupun bookselfie yang dilakukan oleh pengunjung di Malaysia, buku yang dijual sepertinya lebih variatif. BBW di negeri aslinya menjual buku-buku Rainbow Rowell, John Green, bahkan ada #Girlboss nya Sophia Amarusso. Asumsipun berkelana, jangan-jangan buku yang dijual di BBW Jakarta ini adalah buku-buku bekas acara di Malaysia yang belum sempat terjual ya? Mungkin loh ya hehehe

the princess diaries meg cabot big bad wolf
hasil berburu buku di #BBWJKT
Although I only got 2 books, this event is still worth to visit. Kapan lagi kan beli buku impor dengan harga miring plus ga disegel? Sayapun dapat Princess to the Nines by Meg Cabot dan Between the Assassinations by Aravind Adiga seharga masing-masing 60.000, padahal kalo di Periplus atau Kinokuniya harganya bisa 150-180ribuan

Untuk kedepannya semoga acara ini dapat lebih baik lagi terutama dari segi variasi buku dan pemilihan tempat. Pemilihan lokasi di ICE BSD terbilang sangat  jauh terutama untuk masyarakat yang tinggal di Bekasi, Depok, dan Bogor. Akan lebih adil jika lokasinya di tengah Jakarta, karena dapat dijangkau siapapun dan yang terpenting dapat ada transportasi umum yang melewati lokasi acara.

Anyway, katanya BBW ini akan diadakan lagi bulan Oktober besok loh. Semoga memang benar ya, jadi siap-siap menabung dari sekarang. Yeay!