Social Media

June 9, 2016

Having Academic Writing Course at LBI UI

Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman. Kenapa zona nyaman? Karena saya akhirnya memilih menggunakan weekend saya di hari sabtu untuk mengikuti les academic writing di Lembaga Bahasa Internasional UI. Sesungguhnya cukup berat memilih keputusan ini, karena selain leisure time yang terpakai, jarak tempuh yang harus saya lalui juga cukup jauh dari rumah. Saya harus berangkat pagi-pagi menggunakan Transjakarta yang kemudian dilanjut dengan KRL untuk mencapai Depok (rumah lo dimanasi jauh banget T_T). Bahkan guru dan teman sekelas sayapun kaget dengan hal tersebut :") in the end success needs sacrifice, right?

Saya memilih mengikuti academic writing course ini karena manfaat yang akan saya dapat cukup besar. And after having 3 meetings, I guess I made the right decision. Berhubung saya akan melanjutkan studi S2 dan pada studi tersebut akan banyak tugas-tugas essay, rasanya lebih baik saya punya basic menulis akademik yang baik. Walaupun bisa menulis essay dalam bahasa Indonesia, tapi kemampuan menulis essay bahasa Inggris saya masih payah. Apalagi dalam konteks akademik. No wonder I got low score on IELTS Academic Writing test :P

kursus academic writing


Jadi, apa itu academic writing course?
Seperti namanya, program ini merupakan kursus menulis dalam bahasa inggris yang sesuai dengan kaedah akademik. Beda dengan creative writing loh ya. Program academic writing yang diselenggarakan oleh LBI UI ini terdiri dari 3 tingkatan yakni, elementary, intermediate, dan upper intermediate. Saya sendiri berada pada level intermediate, padahal udah optimis bakal masuk upper intermediate hahahah, eh ternyata, kapasitas saya masih standar (jumawa sih lol). Untuk level elemantary, materi kursus difokuskan pada pembuatan kalimat. Bagaimana merangkai kalimat yang baik dan benar serta efektif. Jadi diharapkan tidak ada kesalahan grammar dalam membuat kalimat. Sedangkan level intermediate, peserta diajarkan bagaimana membuat paragraf yang baik Siswa dilatih untuk mengembangkan ide ataupun gagasan kemudian dituangkan kedalam paragraf yang padat, jelas, dan efektif sesuai dengan kaidah penulisan akademik. Goal dari level ini adalah membuat mini essay atau paragraf dengan 250 kata yang efisien dan sesuai dengan topik yang dibawakan. Walaupun terkesan berat, tapi sejauh ini saya sangat menikmati proses belajarnya. Nah untuk level upper intermediate, merupakan lanjutan dari level intermediate. Siswa dilatih untuk mengembangkan ide menjadi sebuah essay yang terdiri dari banyak paragraf. Jadi kalau pada level intermediate ide dituangkan kedalam satu paragraf yang padat, pada level ini, ide dikembangkan menjadi satu essay utuh. Bisa dibilang sih, pada level ini untuk yang memang sudah terbiasa menulis essay bahasa Inggris. Karena tugas-tugasnya pun harus membuat essay yang panjang!

buku academic writing
salah satu isi pada buku yang digunakan dalam kursus academic writing

Lalu, apa gak bosen harus menulis terus selama kursus berlangsung?
Sejauh ini saya bisa bilang gak! Loh? Ya, jadi selama proses belajar, kerjaan saya gak hanya menulis saja. Jadi diawal biasanya diberikan teori terlebih dahulu atau terkadang kita mengerjakan soal-soal yang ada dibuku kemudian dijelaskan mengenai teorinya. Mengerjakan soalnya juga ga monoton kok, jadi kita mengerjakan dengan teman-teman yang lain biasanya si berdua-berdua. Kemudian kita diskusi bersama, jadi selain mengasah kemampuan menulis kita juga melatih kemampuan speaking. Selain itu guru-gurunya juga sangat kompeten dan membawakan materi dengan baik sehingga gak kerasa boring hihi

Saya gak mau les di hari sabtu! Apa ada hari lain?
Program academic writing ini dilaksanakan di dua tempat yakni, Depok dan Salemba. Khusus untuk di Depok jadwalnya hanya ada di hari Sabtu dengan durasi 4 jam dari pukul 08.30 hingga pukul 13.00. This is why I need so much effort to get here :"") Kalau di Salemba, kursus dilaksanakan pada hari Senin dan Rabu atau Rabu dan Jumat dengan durasi sekitar 2 jam per harinya. 

Setelah 3 minggu kursus, saya benar-benar merasakan ilmunya. Sebelumnya saya kira academic writing ya hanya menulis biasa saja. Yang penting bisa menulis, titik. Ternyata tidak semudah itu, ada teori yang sebaiknya diperhatikan. Sebagai contoh sebaiknya sebuah paragraf harus memiliki kalimat topik ataupun main idea, hanya membahas satu topik saja, dan memiliki kalimat simpulan. Saat inipun saya belajar mengenai topic sentence dan penggunaan kata pada transitional signals of process, misal first of all, in addition, in conclusion dll. Setelah dipraktikan ternyata susah-susah gampang. Beberapa kali guru sayapun berkomentar "That's a statement not a topic sentence. Make it more interesting" Duh. 

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya rasa kursus ini sangat penting terutama untuk orang-orang yang ingin mengambil tes IELTS atau TOEFL IBT atau yang akan melanjut studi ke luar negeri. Selain itu program ini juga cocok untuk yang berkecimpung di dunia akademik seperti harus menulis jurnal internasional. Karena setelah melakukan tes IELTS dan melihat hasil IELTS yang diperoleh teman-teman saya, sebagian besar nilai writingnya kurang memuaskan. Teman sekelas saya yang juga dosen dan pernah menempuh studi S2 di Belanda juga bercerita bahwa kelemahan rata-rata mahasiswa Indonesia di sana adalah menulis dalam bahasa Inggris. Jadi ide yang ada di otak sulit dituangkan kedalam tulisan bahasa Inggris sehingga essay yang dihasilkanpun kurang maksimal. So, buat yang berencana untuk mengambil tes IELTS/ TOEFL IBT ataupun yang berencana untuk kuliah di luar negri ada baiknya mengambil program ini. Ilmunya sangat bermanfaat loh. Tapi untuk yang sekedar ingin meningkatkan kemampuan menulis atau mengisi waktu luang juga boleh. Toh ga ada ilmu yang didapat ga akan sia-sia :)

Oya sebagai tambahan, sebelum memilih program di UI ini saya juga sudah mencari info mengenai tempat kursus lainnya di Jakarta dan Bandung. Siapa tau bermanfaat dan bisa jadi preferensi hihi

LBI UI (Depok dan Salemba)
Biaya kursus:
Level Elemantary: Rp 1.200.000; 
Level Intermediate dan Upper intermediate: Rp 1.450.000
Biaya tes penempatan: Rp 75.000
Waktu kursus: 
Kampus Depok khusus hari Sabtu; 
Kampus Salemba di hari Senin & Rabu serta Rabu & Jumat
Info lebih lanjut: http://lbifib.ui.ac.id/beta/

TBI Kuningan
Biaya kursus: Rp 4.800.000 (kurang lebih)
Biaya tes penempatan: Rp 200.000
Waktu kursus: Selasa & Kamis

UPT Bahasa ITB (Bandung)
Biaya kursus: Rp.500.000 (mahasiswa ITB) dan Rp 600.000 (umum)
Waktu kursus: Senin & Rabu serta Selasa & Kamis

TBI Dago (Bandung)
Biaya kursus: saya kurang tau persis, tapi kata teman saya hampir 2 juta untuk 6 minggu
Waktu kursus: seminggu 3x (kalau tidak salah, bisa di cek kembali melalui telfon)

BLCI (Bandung)
Biaya kursus: kurang lebih 5 juta
Info lebih lanjut: http://blciworld.com/



June 3, 2016

What Happened to Social Media These Days

I think I'm tired seeing what people do in social media.

Sepertinya semua orang berubah ketika menggunakan social media, dan itu semua terlihat jelas di beberapa platform social media terutama facebook, instagram, dan path. It seems like everyone wants to look cooler. Status sedang makan di restoran fancy atau baru saja mendarat di bandara XXX menghiasi laman path saya. Kemudian ditambah dengan foto-foto yang instragamable dengan harapan bisa mendapatkan banyak like. Apakah mungkin lebih penting mendapatkan banyak love/like daripada mengucapkan syukur terlebih dahulu untuk makanan yang lezat atau bisa mendarat dengan selamat?

taken from: http://www.self.com/
Melihat fenomena-fenomena tersebut, rasanya saya seperti melihat orang-orang yang berbeda. Orang-orang yang memiliki alter ego ketika berada di social media. Sebagian seperti haus akan apresiasi sebagian lagi ingin akun social medianya terlihat keren (ini berlaku pada instagram). Bahkan sayapun menemukan beberapa orang yang memang sengaja menggunakan jasa penambah likes dan follower semata-mata untuk kepentingan pribadi, kalau untuk bisnis lain cerita ya. It's like such a shame to have fewer likes and within a minute we get worry about it. 

Dalam artikel yang ditulis oleh Tech Insider pun dijelaskan bahwa seperti ada aturan tidak tertulis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh di post, kapan waktu yang baik untuk mem posting, seberapa banyak likes yang cukup untuk menghilangkan kegelisahan kita akan jumlah like tersebut. Seakan-akan kita harus mengikuti aturan tersebut untuk meningkatkan eksistensi dan akhirnya berujung pada tekanan diri sendiri. Truthfully, I once ever wanted to make my instagram and path account become more interesting. But I ended up being tired to be like that. It sucks, trust me.

"People tend to focus on [social media] as though it's just as important as their real lives and I think that could be dangerous,"

Apa yang terpampang di social media menjadi patokan dalam hidup. Kitapun akhirnya mulai mengikuti trend tersebut dan mengubah polah hidup kita (baca: fenomena urban poor ). Gaji dalam sebulan habis hanya untuk hang out di tempat mahal dan membeli pakaian bermerek supaya terlihat oke dan bisa ber ootd ria for the sake of following trend. Padahal sejatinya hal-hal tersebut tidak perlu dan bisa diminimalisir.

Entah sampai kapan hal ini terus berlanjut dan mengubah perilaku orang-orang. Mengambil opsi untuk meninggalkan social media agar tidak terbawa arus, rasanya tidak mungkin. Saya sendiripun merasa masih butuh keberadaan social media untuk mendapatkan hal-hal yang positif. Pada akhirnya hal paling kecil yang dapat kita lakukan adalah, don't take social media too seriously. It's okay to have social media to express your self but don't make it consume you.