Social Media

June 3, 2016

What Happened to Social Media These Days

I think I'm tired seeing what people do in social media.

Sepertinya semua orang berubah ketika menggunakan social media, dan itu semua terlihat jelas di beberapa platform social media terutama facebook, instagram, dan path. It seems like everyone wants to look cooler. Status sedang makan di restoran fancy atau baru saja mendarat di bandara XXX menghiasi laman path saya. Kemudian ditambah dengan foto-foto yang instragamable dengan harapan bisa mendapatkan banyak like. Apakah mungkin lebih penting mendapatkan banyak love/like daripada mengucapkan syukur terlebih dahulu untuk makanan yang lezat atau bisa mendarat dengan selamat?

taken from: http://www.self.com/
Melihat fenomena-fenomena tersebut, rasanya saya seperti melihat orang-orang yang berbeda. Orang-orang yang memiliki alter ego ketika berada di social media. Sebagian seperti haus akan apresiasi sebagian lagi ingin akun social medianya terlihat keren (ini berlaku pada instagram). Bahkan sayapun menemukan beberapa orang yang memang sengaja menggunakan jasa penambah likes dan follower semata-mata untuk kepentingan pribadi, kalau untuk bisnis lain cerita ya. It's like such a shame to have fewer likes and within a minute we get worry about it. 

Dalam artikel yang ditulis oleh Tech Insider pun dijelaskan bahwa seperti ada aturan tidak tertulis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh di post, kapan waktu yang baik untuk mem posting, seberapa banyak likes yang cukup untuk menghilangkan kegelisahan kita akan jumlah like tersebut. Seakan-akan kita harus mengikuti aturan tersebut untuk meningkatkan eksistensi dan akhirnya berujung pada tekanan diri sendiri. Truthfully, I once ever wanted to make my instagram and path account become more interesting. But I ended up being tired to be like that. It sucks, trust me.

"People tend to focus on [social media] as though it's just as important as their real lives and I think that could be dangerous,"

Apa yang terpampang di social media menjadi patokan dalam hidup. Kitapun akhirnya mulai mengikuti trend tersebut dan mengubah polah hidup kita (baca: fenomena urban poor ). Gaji dalam sebulan habis hanya untuk hang out di tempat mahal dan membeli pakaian bermerek supaya terlihat oke dan bisa ber ootd ria for the sake of following trend. Padahal sejatinya hal-hal tersebut tidak perlu dan bisa diminimalisir.

Entah sampai kapan hal ini terus berlanjut dan mengubah perilaku orang-orang. Mengambil opsi untuk meninggalkan social media agar tidak terbawa arus, rasanya tidak mungkin. Saya sendiripun merasa masih butuh keberadaan social media untuk mendapatkan hal-hal yang positif. Pada akhirnya hal paling kecil yang dapat kita lakukan adalah, don't take social media too seriously. It's okay to have social media to express your self but don't make it consume you. 


2 comments :

  1. Can not agree more. Social media is not fun anymore. It is tiring. And as you said, it sucks -sometimes though. BTW, I like your writing style.
    Salam kenal dari Bogor.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba capek juga terkadang kalau liat socmed yah apalagi kalau baca komen2 netijen hehe

      Anyway thanks mba Ratna, salam kenal juga :)

      Delete